Dalam upaya meningkatkan hasil produksi padi, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dan petani. Baik dalam modernisasi alsintan, penyedian benih berkualitas, pengadaan pupuk serta teknologi lain yang tujuannya untuk kesejahteraan petani.
Bibit atau benih padi merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan tersebut. Pemerintah menganjurkan pemakaian benih muda (10-15 hss) agar didapat anakan padi yang lebih banyak. Namun dengan menggunakan benih muda, hama keong masih menghantui petani. Tidak sedikit pula petani yang menggunakan benih tua yang salah satu tujuannya untuk menghindari benih di makan oleh keong. Hal yang sama terjadi untuk penanaman satu benih per lubang tanam.
Berbagai penelitian dan uji coba terutama untuk penanaman padi dengan umur dan jumlah yang berbeda. Tapi banyak dilakukan pada petak sawah yang berbeda. Walaupun petak sawah tersebut berdampingan, namun faktor tanah dan air tentu akan berpengaruh pada perkembangan dan hasil panen. Untuk itu, kelompok tani Rimbun yang berlokasi di nagari Ampang Gadang, kec Ampek Angkek, kab Agam, Sumbar, mencoba menguji pengaruh umur benih padi terhadap perkembangan dan hasil panen yang akan didapat.
Tujuannya adalah
- Untuk mengetahui perkembangan anakan padi yang didapat
- Selisih waktu panen
- Perbedaan hasil panen
Dari beberapa varietas padi yang banyak di tanam disini yaitu padi Ampek Angkek, padi Kuriak Kusuik, padi Kusuik Putiah serta padi Saratuih. Pada kesempatan ini, kami mencoba dengan varietas padi Saratuih yang merupakan padi dengan umur panen paling cepat dibanding varietas lain.
-Penanaman dilakukan terhadap benih yang berumur 23 hss dan 38 hss sistem tegel dengan jumlah benih per lubang tanam 3-5 batang.
- Pemupukan dilakukan hanya satu kali saja yaitu 5 hst. Hal ini dilakukan karena berdasarkan pengalaman di lapangan, jika dilakukan pemupukan 2 kali, maka kemungkinan padi rebah akan semakin besar. Juga dengan pemupukan sekali, hasil panen 95% bernas.
- Pengairan dimulai 7 hst sampai 45 hst. Hal ini juga untuk menghindari padi rebah disaat menjelang panen, karena umur padi yang pendek dan juga bauh padi yang bernas
- Setelah umur padi 28 hst, terlihat perbedaan tinggi padi dan jumlah anakan. Rata-rata anakan untuk benih 23 hss 40 batang per rumpun, sedangkan yang 38 hss hanya 27 batang per rumpun.
Dari pengamatan yang sedang berjalan ini, besar kemungkinan waktu panen dan hasil panen pun nanti akan berbeda. Jika biasanya dengan perlakuan normal sebelumnya, padi Saratuih bisa dipanen 105 hst. Untuk itu, disarankan kepada petani untuk lebih baik menggunakan benih muda dalam budidaya tanaman padi. Jika masih ragu benih padi dimakan keong jika menggunakan benih yang relatif muda (10-15hss), gunakanlah benih dengan umur 21-30 hss baik itu dengan tanam secara jajar legowo, tegel atau pun padi tanam sabatang (pts).
Selamat mencoba yang terbaik untuk mencapai peningkatan hasil panen padi.
Kamis, 07 Desember 2017
Selasa, 31 Oktober 2017
Kerugian makan nasi dari beras putih
Nasi merupakan makanan pokok hampir seluruh masyarakat di Indonesia. Bahkan ada istilah "belum makan kalau belum bertemu nasi". Nasi yang kita makan umumnya berasal dari beras putih. Semakin putih dan mengkilap beras tersebut, kita beranggapan kualitas berasnya semakin bagus.
Pendapat tersebut tidaklah salah dan tidak juga benar. Karena untuk mendapatkan beras putih tersebut, semenjak dari berbentuk padi hingga menjadi beras, melalui dua kali proses yaitu pecah kulit dan penyosohan (dipoles). Dengan proses penyosohan, berakibat hilangnya beberapa kandungan gizi pada beras, diantaranya
Sungguh merupakan sebuah kerugian besar bagi kita selama ini.
Lalu, beras apa yang sehat dan menyehatkan untuk dikonsumsi?
Kita mungkin sudah mendengar tentang beras Coklat. Beras coklat merupakan beras yang hanya mengalalmi sekali proses penggilingan atau yang lebih dikenal dengan beras pecah kulit,dimana hanya membuang lapisan sekamnya saja. Secara tampilan, beras coklat kurang menarik dibandingkan beras putih sehingga jarang dikonsumsi.
Beras coklat yang masih sedikit beredar dipasaran saat ini berasal dari budidaya padi secara konvensional dan organik. Tentu beras coklat organik akan mempunyai nilai gizi yang lebih dari pada yang konvensional.
Selain dari perbedaan mendasar beras putih dan beras coklat tadi, perlakuan dalam pencucian beras pun menjadi hal yang diabaiakan begitu saja selama ini dalam memasak nasi. Kebiasaan kita selama ini, sering dalam melakukan pencucian beras secara berulang-ulang sampai air cucianya berwarna bening. Pencucian beras hendaklah hanya untuk sekedar menghilangkan kotoran dan debu saja (1-2 kali), karena setelah beras di poles oleh penggilingan padi ditambah lagi pengikisan zat gizi pada saat mencuci beras. Pencucian pertama biasanya airnya keruh, yang itu berarti lapisan terluar beras ikut terkikis. Kandungan vitamin B1 akan semakin hilang dari beras, sehingga walaupun kita banyak mengkonsumsi beras, tubuh kita mudah lesu dan tidak optimal dalam berfikir.
Kandungan yang terdapat pada air cucian beras (air tajin) :
- 80% vitamin B1
- 70% vitamin B3
- 90% vitamin B6
- 50% zat mangan
- 50% fosfor
Beras putih bersih dan mengkilap memang enak dipandang mata dan rasanya pun enak, namun kandungan gizinya telah berkurang. Kini tergantung pada masing-masing kita lagi, apakah ingin enak, atau ingin sehat? Tentu ketersediaan beras coklat di pasaran masih sangat sedikit, maka dari itu mulailah dengan memerbaiki cara mencuci beras yang baik. Disamping perut kita kenyang, tentu kesehatan juga harus dijaga. Tentu kita mencontoh orang tua kita dahulu yang memproses beras dengan menggunakan kincir air sehingga beras yang dihaasilkan lebih sehat dan berkualitas.
Pendapat tersebut tidaklah salah dan tidak juga benar. Karena untuk mendapatkan beras putih tersebut, semenjak dari berbentuk padi hingga menjadi beras, melalui dua kali proses yaitu pecah kulit dan penyosohan (dipoles). Dengan proses penyosohan, berakibat hilangnya beberapa kandungan gizi pada beras, diantaranya
- 67 % vitamin B3
- 80 % vitamin B1
- 90 % vitamin B6
- 50 % zat mangan
- 50 % zat posfor
- 60 % zat besi
- Serat dan asam lemak esensial
Sungguh merupakan sebuah kerugian besar bagi kita selama ini.
Lalu, beras apa yang sehat dan menyehatkan untuk dikonsumsi?
Kita mungkin sudah mendengar tentang beras Coklat. Beras coklat merupakan beras yang hanya mengalalmi sekali proses penggilingan atau yang lebih dikenal dengan beras pecah kulit,dimana hanya membuang lapisan sekamnya saja. Secara tampilan, beras coklat kurang menarik dibandingkan beras putih sehingga jarang dikonsumsi.
Beras coklat yang masih sedikit beredar dipasaran saat ini berasal dari budidaya padi secara konvensional dan organik. Tentu beras coklat organik akan mempunyai nilai gizi yang lebih dari pada yang konvensional.
Selain dari perbedaan mendasar beras putih dan beras coklat tadi, perlakuan dalam pencucian beras pun menjadi hal yang diabaiakan begitu saja selama ini dalam memasak nasi. Kebiasaan kita selama ini, sering dalam melakukan pencucian beras secara berulang-ulang sampai air cucianya berwarna bening. Pencucian beras hendaklah hanya untuk sekedar menghilangkan kotoran dan debu saja (1-2 kali), karena setelah beras di poles oleh penggilingan padi ditambah lagi pengikisan zat gizi pada saat mencuci beras. Pencucian pertama biasanya airnya keruh, yang itu berarti lapisan terluar beras ikut terkikis. Kandungan vitamin B1 akan semakin hilang dari beras, sehingga walaupun kita banyak mengkonsumsi beras, tubuh kita mudah lesu dan tidak optimal dalam berfikir.
Kandungan yang terdapat pada air cucian beras (air tajin) :
- 80% vitamin B1
- 70% vitamin B3
- 90% vitamin B6
- 50% zat mangan
- 50% fosfor
Beras putih bersih dan mengkilap memang enak dipandang mata dan rasanya pun enak, namun kandungan gizinya telah berkurang. Kini tergantung pada masing-masing kita lagi, apakah ingin enak, atau ingin sehat? Tentu ketersediaan beras coklat di pasaran masih sangat sedikit, maka dari itu mulailah dengan memerbaiki cara mencuci beras yang baik. Disamping perut kita kenyang, tentu kesehatan juga harus dijaga. Tentu kita mencontoh orang tua kita dahulu yang memproses beras dengan menggunakan kincir air sehingga beras yang dihaasilkan lebih sehat dan berkualitas.
Sabtu, 30 September 2017
Faktor yang mempengaruhi rendemen beras
Setelah melakukan panen padi, biasanya sebagian besar petani langsung menjual ke tengkulak atau tempat penggilinga padi dalam bentuk GKP (Gabah Kering Panen). Padahal jika petani mau sedikit bekerja dan berusaha yakni dengan mengolah padi tersebut menjadi beras, tentu keuntungan yang akan didapat akan meningkat. Hal inilah yang seharusnya dilakukan petani.
Untuk memulainya, dapat dilakukan "semampunya" dulu dengan menyisihkan separuh dari hari hasil panen padi untuk diolah menjadi beras.
Hitungan ekonomi sederhananya adalah :
Jika harga gabah 180.000/ karung (ditempat kami menjual dalam bentuk per karung dengan berat 35-36 per karung) sehingga GKP 5.000/kg. Dengan melakukan penjemuran 2-4 hari yang tentunya dipengaruhi oleh cuaca (upah menjemur kalau di penggilingan per karung Rp 2.500-3.000), lalu di giling di heler yang menghasilkan bersih untuk petani biasanya 19 kg (ditambah biaya penggilingan 1 kg). Lalu petani dapat menjual beras tersebut dengan harga Rp 11.000 - 12.000/kg, keuntungannya pun akan meningkat. Bagaimana dengan pemasarannya? Dengan berkelompok (kelompok tani), tentu hal ini tidak akan menjadi masalah. Itulah yang telah kami lakukan sejak tahun 2015 lalu dalam kelompok tani Rimbun, sehingga produk beras kami berupa beras Ampek Angkek yang telah mendapat nomor registrasi PSAT (Pangan Segar Asal Tumbuhan) dari Dinas Pangan Sumatera Barat telah mampu menembus beberapa mini market di kota Bukittinggi dan kota lainnya di Sumatera Barat, Riau dan di pulau Jawa. Juga beras Ampek Angkek dapat menembus Minang Mart dan Transmart di Padang dan Pekanbaru.
Lalu apa faktor yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas beras yang dihasilkan?
1. Budidaya
Dalam melaksanakan budidaya, dibandingkan dengan petani zaman dahulu (dibawah tahun'90 an), mereka masih banyak mempergunakan bahan organik atau memanfaatka ketersediaan di alam sebagai pupuk. hasil panen yang didapat pun sangat berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya "Rangkiang" tempat menyimpah gabah yang sanggup bertahan lama dengan tidak mempengaruhi kualitas gabah dan beras yang dihasilkan. Saat ini petani kita serba instan dengan memakai pupuk kimia secara berlebihan terutama urea (nitrogen/N). Dengan memakai nitrogen yang berlebihan, banyak gabah yang kurang atau tidak bernas serta beras nya pun banyak terdapat noktaf putih.
Solusinya adalah:
-Dengan mengurangi pemakaian urea dan memperbanyak pupuk yang mengandung fosfor (P) sehingga gabah bernas banyak didapat.
-Kembali ke alam dengan pertanian organik. Bobot gabah padi organik berbeda dengan padi konvensional dan rasanya sudah pasti lebih enak dengan perlakuan organik
2. Perlakuan waktu panen
Hal ini telah dibahas dalam postingan terdahulu yaitu " Menghitung losis panen padi"
3.Penangan pasca panen dan penggilingan padi yang tepat
Proses pengangkutan dan penjemuran padi sering kali diabaikan oleh petani dan pelaku heler. Padahal jika diperhatikan, pada saat penjemuran pun tidak sedikit padi yang hilang. Diaataranya karena padi yang kurang bernas dan terbuanngnya gabah akibat pemballikan yang kurang baik.
Dalam proses penggilingan padi dari GKG (Gabah Kering Giling) menjadi beras, kadar air sangat menentukan hasil dan kualitas beras.
Dari hasil uji coba yang dilakukan dengan kadar air 12%, beras yang didapat atau rendemennya 64%. Sedangkan dengan kadar air 11%, rendemennya 68%. Padi yang kami pakai adalah padi Ampek Angkek. Rendemen untuk setiap varietas padi tentulah berbeda, karena berat dan ketebalan kulit padinya pun jelas berbeda.
Uji coba ini kami lakukan penggilingan padi di penggilingan Limo Jurai dan Bangkit Jaya. Hal ini dikarena kelompok tani Rimbun belum memiliki penggilingan padi sendiri. Dengan tidak memiliki penggilingan padi sendiri, kelompok/petani akan dirugikan dengan tidak termanfaatkannya hasil samping dari proses penggilingan yaitu:
-Dedak
Dedak selain untuk pakan ternak, juga bisa dibuat berbagai macam olahan makanan
-Menir
Juga selain untuk pakan, menir dan beras patah dapat dijadikan tepung beras dan selanjutnya diolah menjadi berbagai makanan
-Sekam
Dapat untuk proses pembakaran dan juga bahan pembuatan kompos
Semoga kedepannya petani tidak lagi fokus ke budidaya saja, namun juga harus mampu mengolah sendiri hasil panennya.
Untuk memulainya, dapat dilakukan "semampunya" dulu dengan menyisihkan separuh dari hari hasil panen padi untuk diolah menjadi beras.
Hitungan ekonomi sederhananya adalah :
Jika harga gabah 180.000/ karung (ditempat kami menjual dalam bentuk per karung dengan berat 35-36 per karung) sehingga GKP 5.000/kg. Dengan melakukan penjemuran 2-4 hari yang tentunya dipengaruhi oleh cuaca (upah menjemur kalau di penggilingan per karung Rp 2.500-3.000), lalu di giling di heler yang menghasilkan bersih untuk petani biasanya 19 kg (ditambah biaya penggilingan 1 kg). Lalu petani dapat menjual beras tersebut dengan harga Rp 11.000 - 12.000/kg, keuntungannya pun akan meningkat. Bagaimana dengan pemasarannya? Dengan berkelompok (kelompok tani), tentu hal ini tidak akan menjadi masalah. Itulah yang telah kami lakukan sejak tahun 2015 lalu dalam kelompok tani Rimbun, sehingga produk beras kami berupa beras Ampek Angkek yang telah mendapat nomor registrasi PSAT (Pangan Segar Asal Tumbuhan) dari Dinas Pangan Sumatera Barat telah mampu menembus beberapa mini market di kota Bukittinggi dan kota lainnya di Sumatera Barat, Riau dan di pulau Jawa. Juga beras Ampek Angkek dapat menembus Minang Mart dan Transmart di Padang dan Pekanbaru.
Lalu apa faktor yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas beras yang dihasilkan?
1. Budidaya
Dalam melaksanakan budidaya, dibandingkan dengan petani zaman dahulu (dibawah tahun'90 an), mereka masih banyak mempergunakan bahan organik atau memanfaatka ketersediaan di alam sebagai pupuk. hasil panen yang didapat pun sangat berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya "Rangkiang" tempat menyimpah gabah yang sanggup bertahan lama dengan tidak mempengaruhi kualitas gabah dan beras yang dihasilkan. Saat ini petani kita serba instan dengan memakai pupuk kimia secara berlebihan terutama urea (nitrogen/N). Dengan memakai nitrogen yang berlebihan, banyak gabah yang kurang atau tidak bernas serta beras nya pun banyak terdapat noktaf putih.
Solusinya adalah:
-Dengan mengurangi pemakaian urea dan memperbanyak pupuk yang mengandung fosfor (P) sehingga gabah bernas banyak didapat.
-Kembali ke alam dengan pertanian organik. Bobot gabah padi organik berbeda dengan padi konvensional dan rasanya sudah pasti lebih enak dengan perlakuan organik
2. Perlakuan waktu panen
Hal ini telah dibahas dalam postingan terdahulu yaitu " Menghitung losis panen padi"
3.Penangan pasca panen dan penggilingan padi yang tepat
Proses pengangkutan dan penjemuran padi sering kali diabaikan oleh petani dan pelaku heler. Padahal jika diperhatikan, pada saat penjemuran pun tidak sedikit padi yang hilang. Diaataranya karena padi yang kurang bernas dan terbuanngnya gabah akibat pemballikan yang kurang baik.
Dalam proses penggilingan padi dari GKG (Gabah Kering Giling) menjadi beras, kadar air sangat menentukan hasil dan kualitas beras.
Uji coba ini kami lakukan penggilingan padi di penggilingan Limo Jurai dan Bangkit Jaya. Hal ini dikarena kelompok tani Rimbun belum memiliki penggilingan padi sendiri. Dengan tidak memiliki penggilingan padi sendiri, kelompok/petani akan dirugikan dengan tidak termanfaatkannya hasil samping dari proses penggilingan yaitu:
-Dedak
Dedak selain untuk pakan ternak, juga bisa dibuat berbagai macam olahan makanan
-Menir
Juga selain untuk pakan, menir dan beras patah dapat dijadikan tepung beras dan selanjutnya diolah menjadi berbagai makanan
-Sekam
Dapat untuk proses pembakaran dan juga bahan pembuatan kompos
Semoga kedepannya petani tidak lagi fokus ke budidaya saja, namun juga harus mampu mengolah sendiri hasil panennya.
Rabu, 20 September 2017
Cara alami mengendalikan hama tikus
Banyaknya
hama tikus yang menyerang tanaman padi di kecamatan Ampek Angkek, tentu
sangat meresahkan petani dan juga Dinas Pertanian Kab Agam. Karena bisa
merugikan petani dan juga target swasembada pangan yang telah
dicanangkan pemerintah, sulit untuk di capai. Untuk itulah, Dinas
Pertanian Kab Agam melalui Kabid Tanaman Pangan Bapak Zul Efendi yang
didampingi oleh Koordinator POPT kab Agam bapak Asmarni terjun langsung
memberi peyuluhan kepada sekitar 70 perwakilan kelompok tani di kec
Ampek Angkek yang di pusatkan di nagari Ampang Gadang.
Dari acara dan hasil diskusi dengan para petani dapat disimpulkan beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi hama tikus ini.
Kunci utama dari pencegahan dan pengendalian hama ini adala TANAM SERENTAK, BERSAMA DAN BERKELANJUTAN
PENCEGAHAN
1. Tanam serentak
Memang tanam serentak untuk beberapa wilayah bisa dilaksanakan, namun jika tidak bisa jarak waktu tanam janganlah sampai 1 bulan. Dengan tanam serentak, hama tikus akan mudah dikendalikan, sebab kalau tidak serentak ketersedian makanan bagi tikus selalu ada
2. Memelihara musuh alami tikus
- Burung hantu merupakan musuh aami tikus. petani dapat membuat semacam tiang gawang di sawah untuk hinggap burung hantu di malam hari
- Ular
-Musang. Musang dapat dipancing keluar dari sarangnya dengan umpan berupa kulit nangka dan pisang rotan
- Harimau buluah, adalah sebangsa harimau yang ukurannya lebih besar sedikit dari kucing. Konon jika harimau buluah ini melewati persawahan, tikus tidak akan mengganggu padi untuk beberapa waktu lamanya.
- Anjing
3. Membuat pematang sawah miring dengan kemiringankurang dari 45 derajat. Dengan pematang sawah yang miring, sinar matahari akan masuk jika tikus membuat sarangnya. Tikus tidak pernah bersarang di pematang yang miring. Juga sarang tikus itu biasanya berada di sebelah selatan dan utara guna untuk menghindari sinar matahari
4. Beternak. Dengan memelihara ternak seperti sapi atau kerbau, rumput pematang sawah bisa digunakan petani untuk pakan ternaknya sehingga pematang sawah bisa selalu bersih
5. Bagi yang hobi menjala burung2 sawah, dapat dilakukan malah hari. Selain mendapatkan burung, juga bisa mendapatkan tikus. Gunakakan jaring yang agak rapat
6. Tanam dengan sistem jarwo
7. Ikut AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi)
Dengan hanya bermodalkan 9.000 rupiah, petani sudah bisa mengasuransikan tanaman padinya seluas 0,25 ha untuk sekali tanam. Dengan uang sedemikian, jika terserang hama tikus 75% dari luas petak sawah, petani sudah bisa mengklaim asuransinya.
PENGENDALIAN
Bagaimana jika sudah terkena serangan hama tikus?
1. Segera lakukan pengeringan sawah. Tikus senang dengan sawah yang berair apalagi yang air mancak/sedikt
2. Menebar kotoran kambing disawah. Aroma tidak sedap dari kohe kambing, bisa membuat tikus tidak berani masuk kesawah dan juga berfungsi sebagai pupuk
3. Membuat tabung bambu. Tabung bambu diletakkan disawah sebelum padi berumur 2 bulan
4. Menebar oli bekas di pematanng sawah, ini darus diulangi setiap 7-10 hari
5. Membongkar sarang tikus (pematang)
6. Membasmi tikus dengan racun tikus, belerang
7. Memberi umpan tikus haruslah dengan berganti ganti umpan, karena tikus termasuk makhluk yang pintar. Jika sekarang dengan umpan racun, nantinya bisa diganti dengan umbi gadung.
Inilah hasil diskusi dengan penyuluh pertanian, POPT dan petani serta beberapa hal yang telah dilakukan kelompok tani Rimbun dalam mengendalikan hama tikus.
Anda punya pengalaman lain mencegah dan mengatasi hama tikus?
Semoga bermanfaat!
Dari acara dan hasil diskusi dengan para petani dapat disimpulkan beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi hama tikus ini.
Kunci utama dari pencegahan dan pengendalian hama ini adala TANAM SERENTAK, BERSAMA DAN BERKELANJUTAN
PENCEGAHAN
1. Tanam serentak
Memang tanam serentak untuk beberapa wilayah bisa dilaksanakan, namun jika tidak bisa jarak waktu tanam janganlah sampai 1 bulan. Dengan tanam serentak, hama tikus akan mudah dikendalikan, sebab kalau tidak serentak ketersedian makanan bagi tikus selalu ada
2. Memelihara musuh alami tikus
- Burung hantu merupakan musuh aami tikus. petani dapat membuat semacam tiang gawang di sawah untuk hinggap burung hantu di malam hari
- Ular
-Musang. Musang dapat dipancing keluar dari sarangnya dengan umpan berupa kulit nangka dan pisang rotan
- Harimau buluah, adalah sebangsa harimau yang ukurannya lebih besar sedikit dari kucing. Konon jika harimau buluah ini melewati persawahan, tikus tidak akan mengganggu padi untuk beberapa waktu lamanya.
- Anjing
3. Membuat pematang sawah miring dengan kemiringankurang dari 45 derajat. Dengan pematang sawah yang miring, sinar matahari akan masuk jika tikus membuat sarangnya. Tikus tidak pernah bersarang di pematang yang miring. Juga sarang tikus itu biasanya berada di sebelah selatan dan utara guna untuk menghindari sinar matahari
4. Beternak. Dengan memelihara ternak seperti sapi atau kerbau, rumput pematang sawah bisa digunakan petani untuk pakan ternaknya sehingga pematang sawah bisa selalu bersih
5. Bagi yang hobi menjala burung2 sawah, dapat dilakukan malah hari. Selain mendapatkan burung, juga bisa mendapatkan tikus. Gunakakan jaring yang agak rapat
6. Tanam dengan sistem jarwo
7. Ikut AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi)
Dengan hanya bermodalkan 9.000 rupiah, petani sudah bisa mengasuransikan tanaman padinya seluas 0,25 ha untuk sekali tanam. Dengan uang sedemikian, jika terserang hama tikus 75% dari luas petak sawah, petani sudah bisa mengklaim asuransinya.
PENGENDALIAN
Bagaimana jika sudah terkena serangan hama tikus?
1. Segera lakukan pengeringan sawah. Tikus senang dengan sawah yang berair apalagi yang air mancak/sedikt
2. Menebar kotoran kambing disawah. Aroma tidak sedap dari kohe kambing, bisa membuat tikus tidak berani masuk kesawah dan juga berfungsi sebagai pupuk
3. Membuat tabung bambu. Tabung bambu diletakkan disawah sebelum padi berumur 2 bulan
4. Menebar oli bekas di pematanng sawah, ini darus diulangi setiap 7-10 hari
5. Membongkar sarang tikus (pematang)
6. Membasmi tikus dengan racun tikus, belerang
7. Memberi umpan tikus haruslah dengan berganti ganti umpan, karena tikus termasuk makhluk yang pintar. Jika sekarang dengan umpan racun, nantinya bisa diganti dengan umbi gadung.
Inilah hasil diskusi dengan penyuluh pertanian, POPT dan petani serta beberapa hal yang telah dilakukan kelompok tani Rimbun dalam mengendalikan hama tikus.
Anda punya pengalaman lain mencegah dan mengatasi hama tikus?
Semoga bermanfaat!
Apa itu padi dan beras Ampek Angkek?
Masih ada sebagian masyarakat bahkan petani yang masih keliru pemahaman
tentang padi ampek angkek dan beras ampek angkek. Karena beranggapan
bahwa beras ampek angkek adalah beras hasil padi yang di tanam di
kecamatan ampek angkek. Itu adalah sebuah kekeliruan sebab padi yang di
tanam di kecamatan ampek angkek ada berbagai varietas seperti padi
kuriak kusuik, padi saratuih, padi kusuik putiah, padi ampek angkek dan
lainnya. Padi ampek angkek di tanam oleh 65 persen petani di kecamatan ini.
Tidak seperti di tempat lain dimana sebut saja beras A , namun varietas padinya berbagai macam, tapi tetap disebut beras A.
Lalu bagaimana dengan padi dan beras ampek angkek?
Padi ampek angkek adalah padi hasil pemurnian dari padi randah putiah yang mempunyai umur panen 165 hst yang telah dilakukan oleh kelompok tani Karya Pembangunan di nagari balai gurah. Namun saat ini perkembangan dari benih padi ampek angkek ini sedikit terkendala karena belum mempunyai label biru atau belum di lepas oleh Kementan RI. Tapi petani tetap mengembangkan padi ampek angkek atau yang dulu dikenal dengan padi randah putiah. Saat ini juga sedang di uji coba penanaman padi ampek angkek yang telah melalui proses radiasi oleh BATAN , sehingga diharapkan bisa memperpendek umurnya.
Satu hal lagi. Padi ampek angkek mempunyai rasa khas jika ditanam di kec ampek angkek, kec canduang, kec banuhampu, kec tilatang kamang, kec kamang magek kabupaten agam dan di kota bukittinggi bagian timur. Padi ampek angkek juga dapat tumbuh dengan baik di tempat lain, namun rasa nasinya berbeda dengan hasil dari daerah tadi. Hal ini disebabkan faktor tanah dan air.
Nah, hasil dari padi ampek angkek inilah yang kemudian menjadi beras ampek angkek. Bukan beras yang ditanam di kecamatan ampek angkek. Hal ini perlu di pahami agar nanti namanya beras ampek angkek, tapi isinya bukan hasil panen dari padi ampek angkek itu sendiri.
Tidak seperti di tempat lain dimana sebut saja beras A , namun varietas padinya berbagai macam, tapi tetap disebut beras A.
Lalu bagaimana dengan padi dan beras ampek angkek?
Padi ampek angkek adalah padi hasil pemurnian dari padi randah putiah yang mempunyai umur panen 165 hst yang telah dilakukan oleh kelompok tani Karya Pembangunan di nagari balai gurah. Namun saat ini perkembangan dari benih padi ampek angkek ini sedikit terkendala karena belum mempunyai label biru atau belum di lepas oleh Kementan RI. Tapi petani tetap mengembangkan padi ampek angkek atau yang dulu dikenal dengan padi randah putiah. Saat ini juga sedang di uji coba penanaman padi ampek angkek yang telah melalui proses radiasi oleh BATAN , sehingga diharapkan bisa memperpendek umurnya.
Satu hal lagi. Padi ampek angkek mempunyai rasa khas jika ditanam di kec ampek angkek, kec canduang, kec banuhampu, kec tilatang kamang, kec kamang magek kabupaten agam dan di kota bukittinggi bagian timur. Padi ampek angkek juga dapat tumbuh dengan baik di tempat lain, namun rasa nasinya berbeda dengan hasil dari daerah tadi. Hal ini disebabkan faktor tanah dan air.
Nah, hasil dari padi ampek angkek inilah yang kemudian menjadi beras ampek angkek. Bukan beras yang ditanam di kecamatan ampek angkek. Hal ini perlu di pahami agar nanti namanya beras ampek angkek, tapi isinya bukan hasil panen dari padi ampek angkek itu sendiri.
Mewaspadi gagal panen padi
Sejak akhir tahun lalu, sudah ada sebagian petani padi yang membeli
beras , padahal mereka adalah penghasil beras. Hal ini terjadi akibat
musim panas pada pertengahan tahun lalu sehingga banyak petani yang
gagal panen. Pemerintah melalui Kementan sudah memperbaiki berbagai
jaringan irigasi, bantuan alsintan bagi petani, namun jika cuaca tidak
mendukung, petani pun mengalami kerugian.
Untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh petani padi :
1. Ikut dalam program AUTP (Asuransi usaha tani padi). Dengan hanya membayar Rp 18 ribu untuk setengah hektare lahan sawah per waktu tanam, petani terlindungi dengan program AUTP ini, walaupun di nanti padi mengalami gagal panen baik karena kekeringan, banjir, hama penyakit dan hama tikus kecuali hama burung. Banyak petani yang kadang menyesal tidak ikut AUTP ketika padinya mengalami kegagalan. Padahal hanya seharga sebungkus rokok, jika gagal dapat mengklaim rp 3 juta untuk setengah hektare tersebut. Dan jika ada penundaan tanam, petani bisa melaporkan ke Jasindo.
2. Petani padi pun hendaknya juga bertanam tanaman hortikultura agar waktu luang dalam budidaya padi dapat berguna. Karena jam kerja efektif petani padi mulai dari menyemai benih hingga panen, hanya 15-20 persen saja tergantung umur varietas padi.
3. Petani jangan lagi membiasakan menjual hasil panen dalam bentuk padi / gabah kering panen (gkp). Dengan mengolah sendiri gkp menjadi beras, maka keuntungan petani pun akan bertambah. Ini dapat di mulai dengan mengolah sendiri gkp secara berangsur2. Dengan pengolahan yang baik, tentu akan menghasilkan beras yang berkualitas dan petani dapat menjualnya kepada tetangga atau pedagang beras. Disamping itu pun masih banyak yang bisa dilakukan oleh petani seperti membuat tepung beras dan berbagai makanan olahan dengan bahan baku dari tepung beras tersebut.
Dengan melakukan hal tersebut, petani akan mendapat nilai tambah daripada hanya sebagai penghasil padi saja. Karena petani yang dengan susah payah dalam membudidayakan padi, tapi jika hanya menjual dalam bentuk bahan mentah, tentu petani hanya akan terus berputar disitu saja.
Petani lah yang akan mampu merubah nasibnya, karena petani mempunyai keterbatasan tenaga dan umur untuk terus bermain dalam lumpur.
Untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh petani padi :
1. Ikut dalam program AUTP (Asuransi usaha tani padi). Dengan hanya membayar Rp 18 ribu untuk setengah hektare lahan sawah per waktu tanam, petani terlindungi dengan program AUTP ini, walaupun di nanti padi mengalami gagal panen baik karena kekeringan, banjir, hama penyakit dan hama tikus kecuali hama burung. Banyak petani yang kadang menyesal tidak ikut AUTP ketika padinya mengalami kegagalan. Padahal hanya seharga sebungkus rokok, jika gagal dapat mengklaim rp 3 juta untuk setengah hektare tersebut. Dan jika ada penundaan tanam, petani bisa melaporkan ke Jasindo.
2. Petani padi pun hendaknya juga bertanam tanaman hortikultura agar waktu luang dalam budidaya padi dapat berguna. Karena jam kerja efektif petani padi mulai dari menyemai benih hingga panen, hanya 15-20 persen saja tergantung umur varietas padi.
3. Petani jangan lagi membiasakan menjual hasil panen dalam bentuk padi / gabah kering panen (gkp). Dengan mengolah sendiri gkp menjadi beras, maka keuntungan petani pun akan bertambah. Ini dapat di mulai dengan mengolah sendiri gkp secara berangsur2. Dengan pengolahan yang baik, tentu akan menghasilkan beras yang berkualitas dan petani dapat menjualnya kepada tetangga atau pedagang beras. Disamping itu pun masih banyak yang bisa dilakukan oleh petani seperti membuat tepung beras dan berbagai makanan olahan dengan bahan baku dari tepung beras tersebut.
Dengan melakukan hal tersebut, petani akan mendapat nilai tambah daripada hanya sebagai penghasil padi saja. Karena petani yang dengan susah payah dalam membudidayakan padi, tapi jika hanya menjual dalam bentuk bahan mentah, tentu petani hanya akan terus berputar disitu saja.
Petani lah yang akan mampu merubah nasibnya, karena petani mempunyai keterbatasan tenaga dan umur untuk terus bermain dalam lumpur.
Sabtu, 24 Juni 2017
Mengatasi hama burung pada tanaman padi dengan menggunakan jengkol (jariang)
Jika padi telah mulai menguning, hama yang di takutkan petani adalah
hama burung. Hama burung ini kalau tidak di atasi, bisa mengakibatkan
kerugian yang besar bagi petani. Bahkan pemerintah dengan Asuransi
Usaha Tani Padi (AUTP) tidak memasukkan hama burung dalam OPT penyebab
kerusakan padi.
Berbagai upaya telah coba di atasi petani untuk mengatasi hama burung ini. Ada dengan orang2an sawah, memasang benang di atas padi dan ada pula dengan memasang waring, walaupun ini efektif tapi biaya cukup besar. Serta ada pula dengan memakai pestisida alami dari jengkol yang di letakkan disawah.
Tergantung mana yang di sukai petani atau ada cara lain yang lebih baik?
Jengkol atau jariang, selain untuk makanan, juga bisa digunakan sebagai sarana pengusir hama burung di sawah. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang anggota kelompok tani Rimbun di nagari ampang gadang dengan memanfaatkan jengkol untuk mencegah burung hinggap di padi dan mencegah hama tikus.
Caranya;
1 kg jengkol di potong sebesar dadu, lalu di rendam dalam 1 liter air selama 24-36 jam. Air rendamannya dimasukkan ke dalam botol air mineral, setengah nya. Dibagian sampingnya di buatkan lubang sehingga aroma jengkol nya menyebar. Botol di gantung di sawah, lebih banyak lebih baik. Aroma jengkol inilah yang membuat burung enggan menghampiri padi. Air rendamannya jengkol di ganti setiap 15-20 hari.
Juga bisa dengan menyemprotkan ke areal sawah dg 1 liter air rendaman /
15 liter air , sekaligus untuk mengusir tikus. Air rendaman jengkol ini bisa di siramkan ke lubang tikus.
Tahapan pembuatan ramuan jengkol untuk mengatasi hama burung :
1. Siapkan jengkol 1 kg, lebih baik yang sudah tua
2. Kupas jengkol, lalu di potong sebesar dadu, bisa juga dengan kulitnya
3. Rendam potongan jengkol dalam 3-5 liter air, lebih sedikit airnya akan lebih baik karena baunya akan lebih terasa
4. Rendam selama 24-36 jam
5. Air rendaman berikut jengkol dimasukkan kedalaman botol mineral yang sedang, setengah nya saja
6. Lubangi botol disamping atas nya agar aroma jengkol menyebar
7. Gantung botol di sawah dengan jarak 10-15 meter, lebih rapat lebih baik
8. Ganti atau tukar air rendaman jengkol setiap 15-20 hari
Dengan cara seperti ini, burung akan enggan menghampiri padi dan petani pun dapat menikmati hasil panen yang lebih baik, di saat sekarang ini harga GKP sangat tinggi, rp 7000/kg.
Selamat mencoba
Berbagai upaya telah coba di atasi petani untuk mengatasi hama burung ini. Ada dengan orang2an sawah, memasang benang di atas padi dan ada pula dengan memasang waring, walaupun ini efektif tapi biaya cukup besar. Serta ada pula dengan memakai pestisida alami dari jengkol yang di letakkan disawah.
Tergantung mana yang di sukai petani atau ada cara lain yang lebih baik?
Jengkol atau jariang, selain untuk makanan, juga bisa digunakan sebagai sarana pengusir hama burung di sawah. Seperti yang dilakukan oleh salah seorang anggota kelompok tani Rimbun di nagari ampang gadang dengan memanfaatkan jengkol untuk mencegah burung hinggap di padi dan mencegah hama tikus.
Caranya;
1 kg jengkol di potong sebesar dadu, lalu di rendam dalam 1 liter air selama 24-36 jam. Air rendamannya dimasukkan ke dalam botol air mineral, setengah nya. Dibagian sampingnya di buatkan lubang sehingga aroma jengkol nya menyebar. Botol di gantung di sawah, lebih banyak lebih baik. Aroma jengkol inilah yang membuat burung enggan menghampiri padi. Air rendamannya jengkol di ganti setiap 15-20 hari.
Juga bisa dengan menyemprotkan ke areal sawah dg 1 liter air rendaman /
15 liter air , sekaligus untuk mengusir tikus. Air rendaman jengkol ini bisa di siramkan ke lubang tikus.
Tahapan pembuatan ramuan jengkol untuk mengatasi hama burung :
1. Siapkan jengkol 1 kg, lebih baik yang sudah tua
2. Kupas jengkol, lalu di potong sebesar dadu, bisa juga dengan kulitnya
3. Rendam potongan jengkol dalam 3-5 liter air, lebih sedikit airnya akan lebih baik karena baunya akan lebih terasa
4. Rendam selama 24-36 jam
5. Air rendaman berikut jengkol dimasukkan kedalaman botol mineral yang sedang, setengah nya saja
6. Lubangi botol disamping atas nya agar aroma jengkol menyebar
7. Gantung botol di sawah dengan jarak 10-15 meter, lebih rapat lebih baik
8. Ganti atau tukar air rendaman jengkol setiap 15-20 hari
Dengan cara seperti ini, burung akan enggan menghampiri padi dan petani pun dapat menikmati hasil panen yang lebih baik, di saat sekarang ini harga GKP sangat tinggi, rp 7000/kg.
Selamat mencoba
Rencana kerja Poktan Rimbun 2017
aratuih hari, cisokan dan lainnya. Mulai dipasarkan akhir bulan ini dg kemasan 2,5,10 dan 20 kg.
2. Peningkatan produksi dan kualitas beras ampek angkek
- membuat lantai jemur
- melanjutkan realisasi pengadaan gabah dg sejumlah keltan
- perluasan jaringan pemasaran
- mengupayakan penambahan lahan sawah kelompok
3. Karena hingga saat ini pendanaan pengadaan masih dr swadaya keltan, maka perlu menjalin kerjasama dg pihak perbankan, atau pola kemitraan dg BUMD/BUMN serta melalui LPDB.
4. Mengadakan pelatihan untuk menambah ilmu, keterampilan serta mengembangkan ke wirausaha an anggota kelompok. Tahap awal, pd awal bulan depan akan diadakan pelatihan kewirausahaan yang bekerja sama dg salah satu perguruan tinggi negeri.
5. Terus mengembangkan pertanian organik dg penambahan komoditi serta memproduksi secara massal kompos organik.
6. Meningkatkan produksi dan luas tanam tanaman cabe, bawang merah dan pepaya.
7. Pemasaran sayuran dg kemasan yang higenis dan menarik.
8. Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia
9. Membuat gudang kelompok
10. Penggadaan Pengglingan padi
10. Perluasan kandang ternak
11. Melakukan studi banding untuk memotivasi anggota dg belajar dari keberhasilan petani di daerah lain.
Semoga semuanya dapat dai wujudkan demi kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar.
2. Peningkatan produksi dan kualitas beras ampek angkek
- membuat lantai jemur
- melanjutkan realisasi pengadaan gabah dg sejumlah keltan
- perluasan jaringan pemasaran
- mengupayakan penambahan lahan sawah kelompok
3. Karena hingga saat ini pendanaan pengadaan masih dr swadaya keltan, maka perlu menjalin kerjasama dg pihak perbankan, atau pola kemitraan dg BUMD/BUMN serta melalui LPDB.
4. Mengadakan pelatihan untuk menambah ilmu, keterampilan serta mengembangkan ke wirausaha an anggota kelompok. Tahap awal, pd awal bulan depan akan diadakan pelatihan kewirausahaan yang bekerja sama dg salah satu perguruan tinggi negeri.
5. Terus mengembangkan pertanian organik dg penambahan komoditi serta memproduksi secara massal kompos organik.
6. Meningkatkan produksi dan luas tanam tanaman cabe, bawang merah dan pepaya.
7. Pemasaran sayuran dg kemasan yang higenis dan menarik.
8. Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia
9. Membuat gudang kelompok
10. Penggadaan Pengglingan padi
10. Perluasan kandang ternak
11. Melakukan studi banding untuk memotivasi anggota dg belajar dari keberhasilan petani di daerah lain.
Semoga semuanya dapat dai wujudkan demi kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar.
Karanok, alternatif sistem tanam padi selain jajar legowo
Dalam perkembangannya, tidak jarang pula "karanok " tsb tidak sempat dipindahkan karena tidak ada lagi rumpun padi yang akan disisip. Dari penanaman "karanok " yang tertinggal itu, pertumbuhan dan perkembangan "karanok " yang ditanam di tengah 2 diantara 4 rumpun (sistem tanam tegel , memiliki pertumbuhan yang seragam dg tanaman lainnya dibandingkan dengan karanok yang ditanam sejajar dg tanaman lain.
Didasarkan hal tersebut, kami mencoba menyederhanakannya dengan mengkombinasikan dengan sistem tanam jajar legowo 4:1. Caranya adalah dengan menanam dengan jarak tanam 35x 35 cm dan antar lorong / setiap 4 baris 1,5 kali jarak tanam (sekitar 52,5cm). Kami mencobanya dengan dua cara yaitu cara pertama dengan menanam "karanok " disetiap antara baris 1 dan 2, baris 3 dan 4 pada barisan tanam dan cara kedua tetap sama dengan cara pertama namun dilewati satu dalam barisan tanam . Dengan cara pertama, ada penambahan rumpun 35 persen dibanding sistem tanam tegel dan cara kedua penambahan 25 persen. Kalau jarwo peningkatan 33 persen. Dengan karanok ini, pertumbuhan tanaman seragam, kalau jarwo tanaman sisipannya cenderung pertumbuhan nya lebih kecil.
Uji coba ini dilakukan pada 8 petak sawah dimana satu petak di tanam dg berbagai sistem tanam yaitu tegel, jarwo 4 : 1 dan karanok cara 1 dan 2. Padi yang ditanam varietas lokal, yaitu padi ampek angkek, padi cisokan dan padi kusuik putiah. Namun kami sedikit mengalami kendala karena faktor cuaca yang kurang mendukung, yang saat ini curah hujan yang berkurang. Walaupun demikian, cara ini kami yakini dapat meningkatkan hasil panen.
Setelah panen, berikut hasil yang kami dapatkan.
Kami pun telah mencoba dengan cara "karanok" dimana tanaman sisipan ditanam di antara rumpun. Ini adalah pengembangan dari jarwo 4:1 yang tanaman sisipan di pinggir, tapi kalau karanok di tengahnya. Karena masih uji coba, "karanok" tersebut kami tanam di antara setiap 4 rumpun utama.
Jika dengan sistem tanam tegel, padi varietas ampek angkek menghasilkan 8,2 ton/ha yang terdapat 78.600 rumpun /ha, dengan sistem karanok ini didapatkan hasil 10 ton/ha dengan 92.800 rumpun /ha, jumlah anakan produktif rata2 54.
Pada MT berikutnya, sistem karanok ini akan kami kembangkan dan sempurnakan lagi agar hasil panen dapat meningkatkan dan kesejahteraan petani pun tercapai.
Rabu, 08 Juni 2016
Pasca panen padi untuk Beras Ampek Angkek kualitas Premium
Padi adalah bahan pokok
utama yang selalu dibutuhkan masyarakat Indonesia dan merupakan komoditas
strategis nasional karena mempunyai nilai bisnis yang sangat besar dan nilai
politis yang tinggi. Untuk itu, upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan
guna memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cara:
·
Peningkatan luas tanam/cetak sawah baru
Hal ini sulit bahkan
tidak mungkin dilakukan di kabupaten Agam provinsi Sumatera Barat, yang ada
malah sebaliknya dimana areal sawah banyak yang berubah menjadi perumahan
·
Peningkatan produtivitas
·
Menekan kehilangan hasil
Pascapanen
hasil pertanian adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemungutan
(pemanenan) hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan, holtikultura,
perkebunan, peternakan, dan perikanan sampai siap untuk dipasarkan. Hasil utama
pertanian adalah hasil utama masyian yang merupakan produk utama untuk tujuan
usaha pertanian dan diperoleh hasil melalui maupun tidak melalui proses
pengolahan .
Sedangkan penanganan
pascapanen adalah tindakan yang disiapkan atau dilakukan pada tahapan
pascapanen agar hasil pertanian siap dan aman digunakan oleh konsumen dan atau
diolah lebih lanjut oleh industri. Penanganan pascapanen hasil pertanian
meliputi semua kegiatan perlakuan dan pengolahan langsung terhadap hasil
pertanian yang karena sifatnya harus segera ditangani untuk meningkatkan mutu
hasil pertanian agar mempunyai daya simpan dan daya guna lebih tinggi. Kegiatan
pascapanen padi meliputi pemanenan, perontokan, perawatan, pengeringan,
penggilingan, pengolahan, transportasi, penyimpanan, standardisasi mutu dan
penanganan limbah.
Penanganan pascapanen
hasil pertanian bertujuan untuk menekan tingkat kerusakan hasil panen komoditas
pertanian dengan meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas pertanian. Berdasarkan
uraian tersebut diatas menunjukkan bahwa penanganan pascapanen mempunyai
peranan yang sangat penting untuk meningkatkan produksi padi melalui penurunan
kehilangan hasil dan peningkatan kualitas hasil serta mengatasi masalah yang
dihadapi petani. Namun demikian, karena terlalu banyaknya masalah yang
dihadapi, maka penanganan pascapanen tidak dapat menyelesaikan semua masalah
secara sekaligus. Oleh karena itu perlu menetapkan prioritas masalah yang akan
diatasi.
Masalah utama dalam
penanganan pascapanen padi yang dihadapi petani adalah masih tingginya
kehilangan hasil selama penanganan pascapanen dan rendahnya mutu gabah dan
beras yang dihasilkan. Rendahnya mutu gabah disebabkan oleh tingginya kadar
kotoran dan gabah hampa serta butir mengapur mengakibatkan rendahnya rendemen
beras giling yang diperoleh.
Penyebab tingginya kehilangan hasil sewaktu melaksanakan panen adalah :
1. Penanganan
panen dan pasca panen padi masih banyak ditangani secara tradisional dan relatif
tertinggal jika dibandingkan kegiatan pra panen, hal ini antara lain ditandai
dengan rendahnya penerapan sarana dan teknologi panen/pasca panen serta
pengelolaan hasil panen yang belum optimal.
2. Waktu panen
yang kurang tepat
3. Terbatasnya
peralatan pendukung
4. Belum
optimalnya pemanfaatan teknologi dan dukungan peralatan mesin pasca panen
5. Penempatan
dan pengalokasian peralatan mesin pasca panen yang kurang tepat
6.
Kemampuan dan pengetahuan petani dalam penanganan
panen dan pasca panen masih terbatas
7.
Belum adanya SOP (Standar Operasional Prosedur)
Beberapa kehilangan hasil yang dikarenakan oleh kelalaian petani:
a.
Kehilangan hasil pada saat panen
o
Pemanenan yang
dilakukan sebelum umur optimal menyebabkan kualitas gabah yang kurang baik
karena tingginya persentase butir hijau pada gabah
o
Sedangkan panen yang
dilakukan setelah lewat masak akan
menyebabkan jumlah gabah yang hilang
karena rontok saat pemotongan akan besar.
o
Hal ini akan
menurunkan kualitas beras yang dihasilkan.
Faktor
penyebabnya adalah :
·
Varietas
·
Umur panen
·
Kadar air panen
·
Alat dan cara panen
·
Perilaku tenaga panen
·
Sosial Budaya
Masyarakat
·
Tingkat Pendidikan
Petani
·
Kelembagaan yang ada
di masyarakat
MUTU GABAH adalah :
Ø Kadar air
Ø Kebersihan (bebas dari
kotoran, batu, kerikil dll)
Ø Kemurnian Varietas
Ø Rendemen Penggilingan
MUTU BERAS adalah :
Ø Warna
Ø Kebersihan (bebas dari
kotoran, batu, kerikil dll)
Ø Keseragaman butiran
Ø Jumlah beras kepala
(utuh) dan beras patah
Varietas unggul lokal
kabupaten Agam adalah padi/beras Ampek
Angkek karena memiliki beberapa keunggulan dibanding varietas lainnya,
diantaranya :
1. Hasil panen yang
didapat lebih banyak, karena anakan padi ini rata" diatas 50 anakan per
rumpun, bahkan ada yang lebih 100 anakan seperti yang terdapat dilahankelompok.
2. Potensi hasilnya 6,9
– 8,8 ton/ha
3. Harga gabahnya
paling tinggi dengan selisih Rp. 200/kg dibanding varietas lain.
4. Harga beras juga
lebih mahal Rp.1500-2000 per kilo dibanding beras lainnya.
5. Termasuk jenis padi
yang ulet, maksudnya dengan kondisi tanah yang pH-nya rendah atau kami
menyebutnya kondisi tanah 'langek', padi ini tetap mampu tumbuh baik. Apalagi jika kondisi tanahnya subur.
6. Sangat cocok dengan metoda padi salibu.
7. Jika padi ini
dimakan tikus, jika batangnya dipotong akan mampu tumbuh kembali dengan hasil
padi yang baik pula.
8. Karena daun bendera
padi ini tinggi, hama burung pun enggan menghampirinnya.
9. Memang umur padi
ini relatif lama yakni 6 bulan, tapi hasil yang didapat tidak membuat petani
rugi.
10. Benih tua pun padi
Ampek Angkek ini akan tetap menghasilkan panen yang bagus. Kalau benih sudah
lebih 2 bulan, maka panen dapat dilakukan kurang 15 hari dari yang biasanya.
11. Padi Ampek Angkek
dan semua jenis padi yang ditanam di kec Ampek Angkek adalah padi yang ramah
lingkungan. Karena tidak memakai pestisida.
Tahapan untuk mendapatkan gabah dan beras yang
berkualitas.
A.
Penentuan saat panen
Penentuan saat panen dapat dilakukan berdasarkan :
Ø Pengamatan visual
Pengamatan visual
dilakukan dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan lahan sawah. Berdasarkan kenampakan visual, umur panen
optimal padi dicapai apabila 90 sampai 95 % butir gabah pada malai padi sudah
berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut
akan menghasilkan gabah berkualitas baik sehingga menghasilkan rendemen giling
yang tinggi.
Ø Pengamatan Teoritis
-
Pengamatan teoritis
dilakukan dengan melihat deskripsi varietas padi
-
Berdasarkan kondisi
varietas padi yaitu 30 sampai 35 hari setelah berbunga
-
Kadar air 22 – 23 %
saat musim kemarau dan 24 – 26 % saat musim penghujan
B.
Pemanenan
Pemanenan padi harus dilakukan pada saat yang tepat. Panen yang terlalu
cepat dapat menyebabkan kualitas butir gabah menjadi rendah, yaitu banyak butir
gabah menjadi rendah, yaitu banyak butir hijau atau butir berkapur. Bila hal
ini terjadi, nantinya akan diperoleh beras yang mudah hancur saat digiling.
Sebaliknya, panen yang terlambat dapat menurunkan produksi karena banyak butir
gabah yang sudah dimakan burung atau tikus dan akan banyak gabah yang
berserakan akibat terlalu masak. Pemanenan dapat dilakukan secara manual atau
secara mekanis, yang secara manual biasanya dengan menggunakan ani-ani, sabit,
dan sabit bergerigi dan yang secara mekanis telah banyak yang
menggunakanmesinpemanen.
C.
Penumpukan Sementara
Penumpukan
dan pengumpulan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah padi
dipanen. Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pengumpulan padi dapat
mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau
mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan
pengangkutan padi menggunakan alas.
Kehilangan hasil pada saat penumpukan sementara
o
Tenaga pemanen
melakukan penumpukan dengan tergesa – gesa dan tanpa alas
o
Saat pengangkutan ke
tempat penumpukan, sudah pasti ada padi yang tertinggal di tanah akibat tidak
di alas
D.
Perontokan
i.
Kehilangan hasil pada saat Perontokan
o
Ukuran alas perontokan
menjadi faktor utama kehilangan hasil
o
Umur panen padi yang
tidak tepat
o
Untuk beberapa
varietas, penundaan waktu perontokkan setelah panen bisa mengurangi kehingan
hasil perontokan
o
Alat/cara
perontokan berpengaruh terhadap jumlah
losis.
o
Berbagai alat atau
cara perontokan
-
Manual :
- Iles, Tongkang
-
Meknik :
- Power thresher , Combine
harvester
o
Pembersihan gabah dari
kotoran dan jerami dilakukan dengan menggunakan lumbo/kipeh sehingga akan
didapat gabah bernas 98%. Dengan gabah yang sudah bernas ini, akan mempengaruhi
kualitas beras yang dihasilkan.
E. Mengitung losis
Kehilangan hasil saat melakukan pemanenan, selama ini kurang menjadi perhatian
bagi petani. Padahal tidak sedikit
kerugian yang dialami ketika tidak memperlakukan proses pemanenan dan
perontokan padi secara baik dan benar.
a.
Penghitungan Kehilangan hasil saat panen (padi Ampek Angkek )


Keterangan :
Bt = berat butir gabah bernas yang menempel di papan à dengan tabel konversi susut
panen
Bgt =
berat butir gabah bernas yang menempel pada alas penumpukan
sementara
Bp = berat hasil panen
ubinan 5 x 5 m
Lp = luas ubinan 5 x 5
meter
Berat 1 butir gabah bernas = 0,022 gram

Contoh:
1. Jumlah butir gabah bernas yang menempel di 9 papan = 110 butir
à dari tabel konversi diperoleh jumlah susut = 66 kg/ha
2.Dari
hasil panen ubinan 5 x 5 meter diperoleh hasil 21,4 kg gabah
à per
hektarnya = 21,4 kg/25 m2 x
10.000m2 = 8.560 kg/ha
3.Jml
butir gabah bernas pd alas penumpukan sementara = 2890 butir
à
jika berat 1 butir = 0,022 gram, maka 2890 x 0,022 = 63,58 gram
à per
hektarnya = 63,58
kg/25 m2 x 10.000m2 = 25.432 gram/ha
= 25,43 kg/ha

ii.
Penghitungan Kehilangan saat melakukan Perontokan padi



Contoh:
Gabah/padi 100 kg yang ditimbang dengan batang padi
yang dirontokkan secara manual
:
Berat gabah bersih : 36 kg (BT0)
Berat Jerami : 56,5 kg
Berat Kotoran : 6,13 kg
Berat Debu : 1,25 kg
BT1 = 5.788 x 0,022 gr
= 127,3 gram
= 0,12 kg
BT2 = 126 x 0,022 gr
= 2,77 gram
= 0,002 kg x 56,5 kg (berat jerami)
= 0,113 kg
BT2 = 8.102 x 0,022 gr
= 178,2 gram
= 1,042 kg


SPr =
1,273 x 100%
37,273
= 3,41 %
Dari hasil
penghitungan kehilangan panen (losis), dapat kita ketahui berapa kerugian yang
kita alami. Jika harga Gabah Kering
Panen (GKP) Rp 5.800 per/kg
-
Kerugian akibat losis
panen
= 0,97 % x Rp 5.800 x 8.560 kg
= Rp 481.585,-
-
Kerugian akibat losis
perontokan
= 3,41 % x Rp 5.800 x 8.560 kg
= Rp 1.692.996,-
-
Total kerugian yang
dialami oleh petani akibat dari ketidak hati-hatian akan “hal sepele ini” adalah Rp 2.174.581,-
Semua itu kembali kepada pribadi masing – masing petani, walaupun kehilangan dari hasil panen dan
perontokan tidak dapat hilangkan namun dapat dikurangi.
F.
Pengeringan
Proses
pengeringan adalah proses pengambilan atau penurunan kadar air sampai batas
tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan biji-bijian sebelum bahan
diolah menjadi beras. Padi setelah dipanen dan dirontok akan menghasilkan gabah
yang mempunyai kadar air sekitar 20% sampai 25%. Gabah hasil panen tersebut
baru dapat disimpan atau digiling dengan baik apabila kadar air diturunkan
hingga mencapai kadar air yaitu sekitar 14%. Petani padi pada umumnya
menjemur/mengeringkan gabah dengan cara menghamparkan gabah pada terpal plastik
dan juga pada lantai jemur yang beralaskan semen. Penjemuran/ pengeringan
dengan alas terpal plastik merupakan cara konvensional pengeringan gabah yang
paling popular di Indonesia, karena lebih murah dibandingkan pengeringan buatan
(makanis atau semi mekanis). Padi yang sudah selesai dituai harus segera
dikeringkan dengan menjemur dibawah panas matahari. Penjemuran cukup 2-3 hari,
tiap hari selama 3-4 jam. Selama dijemur perlu dibalik setiap jamnya agar
keringnya merata
Tujuan
pengeringan gabah adalah :
-
Menurunkan kadar air gabah yang pada waktu panen kadar air gabah
23-27%, setelah dikeringkan kadar airnya 13-14%. Dengan kadar air seperti ini,
gabah dapat tahan lama dalam penyimpanan.
-
Meringankan pengangkutan, dengan berat gabah
berkurang biayapengangkutandapatditekan.
-
Untuk mempersiapkan pengelolan gabah
lebih lanjut. Gabah yang masih basah tidak bisa diproses atau dijadikan beras
dengan baik.
-
Untuk meningkatkan kualitas gabah/beras.
Penundaan pengeringan dapat menyebabkan pembusukan, turunnya mutu, dan kerugian fisik yang meningkat secara dramatis dalam 2-3 hari setelah perontokan. Padi dengan kadar air tinggi (>20%) harus dikeringkan secepat mungkin sampai 18 % lalu ke 14 % untuk memelihara bau, kualitas dan proses di penggilingan.
F. Penggilingan
Penundaan pengeringan dapat menyebabkan pembusukan, turunnya mutu, dan kerugian fisik yang meningkat secara dramatis dalam 2-3 hari setelah perontokan. Padi dengan kadar air tinggi (>20%) harus dikeringkan secepat mungkin sampai 18 % lalu ke 14 % untuk memelihara bau, kualitas dan proses di penggilingan.
F. Penggilingan
Penggilingan merupakan proses akhir
terakhir untuk mengubah gabah menjadi beras. Penggilingan adalah proses
pemisahan antara beras dengan kulitnya yang meliputi pengupasan sekam,
pemisahan gabah, penyosohan, pengemasan dan penyimpanan. Penggilangan Padi
Kecil (PPK) yang telah di revitalisasi oleh pemerintah, mampu mencapai rendemen
65%. Beras yang dihasilkan pun memiliki
kualitas yang bagus tergantung perlakuaan kita sebelumnya, mulai dari pemanenan
sampai penggeringan.
G. Penyimpanan
Setelah
dilakukan pengeringan, gabah dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu
tergantung tingkat kekeringan dari gabah tersebut.
Pengaruh
kadar air terhadap lamanya penyimpanan gabah:
1) Jika
kadar air 14% maka gabah dapat disimpang hingga 2 tahun
2) Jika
kadar air 15% maka gabah dapat disimpang hingga 1 tahun
3) Jika
kadar air 16% maka gabah dapat disimpang hingga 6 bulan
4) Jika
kadar air 17% maka gabah dapat disimpang hingga 3 bulan
5) Jika
kadar air 18% maka gabah dapat disimpang hingga 45 hari
6) Jika
kadar air 19% maka gabah dapat disimpang hingga 25 hari
7) Jika
kadar air 20% maka gabah dapat disimpang hingga 20 hari
8) Jika
kadar air 21% maka gabah dapat disimpang hingga 15 hari
9) Jika
kadar air 22% maka gabah dapat disimpang hingga 3-5 hari
10) Jika
kadar air 23% maka gabah dapat disimpang hingga 1 hari
Kesalahan
pada waktu penyimpanan, dapat menyebabkan kerusakan pada padi seperti timbulnya
jamur yang berakibat pada menurunya kualitas beras. Penyimpanan beras dapat dilakukan dengan cara
curah, yaitu tanpa menggunakan kemasan dan penyimpanan dengan menggunakan
kemasan seperti dalam karung dan kantong plastik.
Kerusakan
beras, dapat disebabkan oleh :
1) Faktor
Internal
Hal
ini disebabkan karena penyosohan beras yang kurang bersih, bekatul yang masih
menempel pada beras yang berakibat beras menjadi bau dan berwarna kusam
kehitaman .
2) Faktor
Eksternal
Kerusakan
yang dikarenakan oleh serangan serangga dan juga tikus, burung. Ini berakibat pada berlubangnya beras dan
menjadi bau sehingga bobotnya pun menjadi berkurang.
Pencegahan
menjadi hal yang utama yaitu:
ü Beras
harus kering dengan kadar air maksimal 14% atau kurang
ü Derajat
sosoh sempurna
ü Pengemasan
dengan kantong plastik yang baik
ü Ruang
penyimpanan yang bersih dan sejuk
ü Terhindar
dari serangga, tikus dan burung
H.Pengemasan
Penyimpanan
dalam kemasan dilakukan dengan beberapa bentuk :
-
Kemasan harus dapat melindungi beras
dari kerusakan
-
Kemasan tidak membuat beras menjadi
rusak
-
Kemasan harus kuat
Kelebihannya
:
-
Karena karung berlobang-lobang kecil,
gabah tidak harus disimpan dalam keadaan kering sekali
-
Dapat dipasangi label sehingga diisi
dengan berbagai jenis
-
Mudah dipindahkan
Kekurangannya
:
-
Mudah rusak sehingga hanya dapat dipakai
sekali
-
Tidak aman dari ancaman air,
serangga dan tikus
-
Tidak dapat disimpan dalam waktu
yang lama
Cara
penyimpanan :
-
Disimpan dengan kadar air 12 – 14%
-
Kemasan dan beras dalam keadaan bersih
-
Ditumpuk dengan menggunakan alas dan
tidak langsung diatas lantai
Beras dimasukkan kedalam kantong-kantong plastik dengan ukuran tertantu
yang kemudian disimpan secara bertumpuk. Caranya :
-
Bersihkan tempat penyimpanan
-
Gunakan balok kayu dan papan sebagai
alas
-
Pisahkan setiap ukuran dengan maksimal
15 tumpukan
PENUTUP
Demikianlah sedikit
uraian tentang cara penangan pasca panen padi sampai diolah menjadi beras agar
beras yang kita dapatkan dan kita konsumsi adalah beras terbaik dengan kualitas
premium. Jadi setiap langkah dalam pelaksanaan pasca panen merupakan hal yang
mempengaruhi langkah kerja kita berikutnya
Dengan adanya buku ini
bisa menjadi acuan bagi para petani untuk lebih baik lagi melakukan proses
pasca panen sehingga usaha kita dalam budidaya tanaman padi tidak menjadi
sia-sia disebabkan perlakuan pasca panen yang kurang baik. Proses pengolahan
gabah menjadi beras pun tidak terlepas dari perhatian kita agar beras yang
dihasilkan sesuai dengan yang kita harapkan.
Semoga buku ini bisa
bermanfaat bagi kita semua. Dan kami
mengharapkan kritik dan sarannya demi perbaikan buku ini kedepannya dan juga
demi kesejahteraan petani agar segala sesuatu yang dilakukan petani membuat
petani sejahtera. Amiin.
Biografi
Ø Nama Lengkap : DEDDY
ALFIANTO
Ø Tempat / Tanggal Lahir : Bukittinggi
/ 31 Desember 1975
Ø Jenis Kelamin : Laki-laki
Ø Usahatani :
ü Padi :
0,75 Ha
ü Hortikultura : 0,25 Ha
ü Perternakan Kambing
Ø Kelompoktani : Rimbun
Ø Gapoktan : Limo Jurai
Ø Pendidikan Terakhir : SLTA ( MAN Koto Baru, Padang Panjang
)
Ø Alamat :
ü Jorong : Parik Putuih
ü Nagari : Ampang
Gadang
ü Kecamatan : Ampek Angkek
ü Kabupaten : Agam
ü Provinsi : Sumatera Barat
Ø Kontak Person :
ü HP / WA : 085278169916
ü Pin BBM :5945B4A9
Langganan:
Postingan (Atom)













